Rokok, diam-diam membahayakan

Rokok, Kenikmatan yang Membahayakan
Oleh : Sutardi, S.Si

Fatwa haram merokok belum dirilis Majelis Ulama Indonesia, akan tetapi penolakan telah datang dari berbagai kalangan termasuk dari Ulama sendiri. Terlepas dari pro dan kontra terhadap fatwa tersebut, sebenarnya dampak negatif dari tembakau telah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, mulai dari kanker (paru-paru, rongga mulut, pangkal tenggorokan, kerongkongan, ginjal, kantung kemih, hati, dan lain-lain), jantung koroner, parkinson dan struk serta beberapa gangguan serius lainnya. Akan tetapi kesadaran untuk berhenti merokok pada masyarakat Indonesia masih sangat rendah, bahkan dari tahun ke tahun pengguna rokok semakin meningkat dan merambah pada usia remaja (pelajar).

Dari data penelitian antara tahun 1995 sampai 2000, terjadi peningkatan dari 13,7 persen menjadi 24,2 persen dan di tahun 2004 telah menjadi 31,45 persen. Ironisnya peningkatan ini didominasi oleh remaja laki-laki usia 15 hingga 17 tahun yang menjadi perokok tetap. Pada momentum bergulirnya wacana fatwa haram merokok tersebut, penulis sengaja mengangkat tema bahaya merokok untuk memberi motivasi kepada pembaca yang ingin berhenti merokok sekaligus sebagai tambahan wawasan bagi yang masih merokok sehingga memutuskan untuk berhenti merokok.

Menurut penelitian, asap rokok mengandung sekitar 3.800 zat kimia, 40 zat diantaranya termasuk senyawa racun dan karsinogenik (pemicu kanker). Racun tersebut diantaranya nikotin (biasa digunakan untuk pestisida), timbal (zat adiktif bensin), kadmium (bahan aki mobil), hidrogen sianida (racun untuk hukuman mati), fenol (antiseptik untuk operasi pembedahan), metil-etil keton (pelarut karet sintetis), formalin (pengawet mayat), benzena (campuran bahan bakar), tar (pengeras jalan), ammonia (pembersih lantai), methanol (bahan bakar roket), polonium (unsur radioaktif), naftalen (kapur barus), asam sulfurik (bahan pupuk dan peledak), DDT (pestisida), karbon dioksida dan lain sebagainya (Hidayat dkk, 2004).

Indonesia memang merupakan negara yang sangat longgar mengatur tentang rokok. Produksi rokok Indonesia sangat tinggi, batasan usia perokok serta kawasan bebas rokok pun tidak diatur secara ketat, iklan rokok leluasa mensponsori berbagai kegiatan (termasuk kegiatan di kampus dan sekolah), sehingga kita dengan mudah menjumpai orang-orang termasuk remaja dan anak-anak yang sedang merokok. Fenomena ini tanpa kita sadari sebenarnya merupakan “ancaman” bagi masa depan bangsa. Karena konsumsi rokok yang tinggi apalagi dimulai sejak usia muda, akan membawa kita ke berbagai ancaman penyakit. Tragisnya, bahaya itu tidak hanya ditanggung oleh pengguna rokok saja, tetapi juga oleh orang disekitarnya yang biasa disebut perokok pasif. Bahkan perokok pasif ini menanggung resiko lebih tinggi dari perokok aktif sendiri Sehingga sebagian orang berkesimpulan lebih baik jadi perokok aktif, toh tidak merokok juga terkena imbasnya (sungguh ironis kesimpulan semacam ini).

Organisasi kesehatan dunia, WHO melaporkan bahwa setiap satu jam terdapat 560 orang di dunia yang mati akibat rokok dan jika tidak ada aksi nyata dari pemerintah untuk melarang warganya merokok, maka diperkirakan pada tahun 2020 setiap tahunnya sekitar 8,4 juta penduduk dunia mati akibat penyakit yang berkaitan dengan rokok (Ensiklopedia Iptek, 2004). Sampai saat ini di Indonesia belum ada peraturan yang tegas tentang rokok. Peraturan yang dibuat oleh pemerintah DKI Jakarta beberapa waktu lalu pun belum efektif dijalankan. Maka hanya kesadaran setiap individu perokok aktiflah yang dapat mengurangi dampak buruk rokok tersebut.

Bagi perokok aktif, ada beberapa hal yang dapat dilakukan.Pertama, hanya merokok di tempat yang disediakan bagi perokok dan tidak merokok di tempat/ruang/fasilitas publik (kendaraan umum, terminal, pasar, kantor, sekolah, rumah sakit dan lain-lain). Hal ini dapat meminimalisir bahaya rokok bagi perokok pasif serta tidak mendorong orang lain untuk meniru merokok, terutama jika kita adalah seorang “public figure” semisal guru di sekolah, pesantren atau lembaga pendidikan lainnya, pemimpin perusahaan, tokoh masyarakat, ulama dan sejenisnya. Kedua, berupaya melindungi seluruh anggota keluarga dari potensi menjadi perokok aktif dan perokok pasif terutama terhadap wanita hamil, bayi, anak dan remaja. Penelitian terbaru menemukan bahwa rokok mengandung zat yang berpotensi merusak sel, terutama sel saraf dan menstimulus sel tersebut untuk bermutasi sehingga mengakibatkan penurunan kecerdasan pada bayi dan anak secara drastis.

Ketiga adalah berusaha dengan berbagai cara untuk mengurangi konsumsi rokok, misalnya dengan membuat atau mengikuti kegiatan-kegiatan pola hidup sehat seperti rajin berolah raga. Selain itu kita juga dapat mencoba tips-tips dari para ahli dan orang yang telah berhasil berhenti merokok yang banyak ditawarkan baik melalui media seperti televisi dan internet. Sementara itu, bagi para perokok pasif hendaknya menghindari keinginan untuk mencoba merokok, berani (tidak malu) menyatakan keberatan kepada orang yang merokok di dekat kita atau memintanya mencari tempat lain untuk merokok, serta menghindari tempat-tempat di mana orang bebas merokok.

Akhirnya, pada momentum akan dikeluarkannya Fatwa MUI tentang haram merokok ini kita berharap kepada pemerintah untuk melakukan aksi nyata dalam menanggulangi bahaya rokok. Karena dampak negatif tembakau tidak hanya pada kesehatan individu yang membebani anggaran kesehatan, tetapi juga Negara harus berperang melawan praktek kejahatan ekonomi (penyelundupan tembakau) dan bahaya lanjutan dari penggunaan rokok yang tidak terkendali yaitu penyalahgunaan narkotika. Lembaga pendidikan seperti sekolah, pesantren dan juga para orang tua harus memberikan pendidikan tentang bahaya rokok serta memberikan tauladan untuk tidak merokok di hadapan peserta didik dan putra-putrinya. Dan yang lebih penting adalah kita harus menjaga diri masing-masing dari bahaya pengaruh rokok karena sesungguhnya Tuhan lebih mencintai hamba-Nya yang kuat (sehat) dari hamba-Nya yang lemah.**

* Penulis adalah pimpinan Quantum Learning Center; Alumni FMIPA Kimia UGM Yogyakarta.

~ oleh thechocokids pada September 14, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: